Dikirimkan pada

Life is adventure!

Februari. Maret. April. Mei. Juni. Juli. Agustus. September. Oktober.

9 bulan. Kira-kira telah selama itulah saya duduk bersama laptop putih Samsung saya, merangkai kata demi kata hingga sekarang semuanya telah berjumlah 200 halaman lebih. 9 bulan, belum termasuk masa-masa saya bergerilya mencari berbagai referensi di berbagai perpustakaan dan membacanya halaman demi halaman.  Terlalu lamakah untuk sebuah tugas akhir yang disebut Thesis? Saya tak tahu. Bisa jadi iya, bisa pula tidak. Yang pasti saya telah melewati 9 bulan tersebut dengan berbagai rasa suka dan duka. 9 Bulan sebuah proses yang mengajari saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Perjalanan Awal

Di awal saya memutuskan mengambil tema penelitian discourse analyses pada novel Pramoedya Ananta Toer dan terjemahannya dalam bahasa Jerman, karena menganggapnya bisa menyelesaikannnya dengan cepat dan mendapat dosen pembimbing yang mumpuni yang sesuai tema penelitian saya. Tetapi ternyata saya melupakan beberapa faktor, hingga ada beberapa hal yang terjadi di luar prediksi saya. Pertama, saya belum pernah sama sekali mengambil bentuk penelitian kualitatif apalagi pada ranah linguistik deskriptif. Kedua, saya belum sama sekali berinteraksi dengan karya sastra dan terjemahan bahasa Indonesia-Jerman dalam skala penelitian. Ketiga, kemampuan bahasa Jerman saya yang belum “pantas” untuk penelitian jenis deskriptif linguistik untuk sebuah karya sastra-terjemahan. Ya, itulah titik poin di awal yang saya tidak saya masukan dalam list rencana penelitian saya.

Bagai dicemplungkan ke dalam lautan yang luas untuk berenang, di awal penelitian semuanya seperti meminum air lautan dan memenuhi rongga perut saya. Entah harus dimulai dari mana. Meraba dalam kegelapan, berjalan setapak-setapak. Memahami satu persatu, lembaran demi lembaran, mempersepsinya dalam otak kanan dan kiri saya dan kemudian merangkainya kata per kata. Lembaran demi lembaran.

Kisah dibalik 9 bulan

Kapan ujian? Kapan wisuda? Dua pertanyaan yang saya sendiri tak bisa menjawabnya. Terimakasih untuk orang-orang yang pernah bertanya itu pada saya, sebuah tanda bahwa masih ada yang memberikan perhatiannya pada saya. Walau terkadang tak jarang pertanyaan itu sangat menganggung dan mengusik saya, bahkan bila ada sms/pesan di YM ada yang bertanya soal itu, tak jarang saya abaikan. Maaaffff kawan ^^v

Saya tak lagi ingin memikirkan kawan ujian? Dan kapan wisuda? Pertanyaan yang sama sekali tak solutif untuk saat ini. Biarkan waktu yang menjawabnya. Saya tak peduli semua ini akan berujuang seperti apa. Saya pun tak peduli lagi thesis saya mungkin kelak hanya akan menjadi tumpukan di perpustakaan setelah dicoret-coret oleh dosen penguji. Semua itu tak lagi penting. Bagi saya, Tuhan telah memberikan lebih dari yang saya harapkan saat ini. Dan itu merupakan hal yang lebih penting untuk saya.

Di awal, seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa saya hanya ingin menyelesaikan thesis ini secepat mungkin saya bisa. Tetapi justru Tuhan memberikan saya hal yang lebih. Proses panjang thesis ini mengajarkan saya banyak hal. Sebuah proses yang harganya tak ternilai.

Kekuatan keyakinan dan mimpi. Keberanian menghadapi kegagalan. Keberanian mencoba dan mencoba. Keberanian melakukan kesalahan. Konsistensi. Loving what you doing! Kesabaran. Get ur’ passion! Mengalahkan diri sendiri. Bersyukur. Don’t be stress! The power of giving.

Ya mungkin kata-kata itulah yang bisa melukiskan semua nilai yang  berharga tersebut selama 9 bulan ini. Mundur menjadi lebih mudah di saat kalah, tetapi maju dan menyelesaikan hingga di titik akhir tampaknya menjadi lebih berharga. Kalimat itulah yang saya coba camkan baik-baik saat menghadapi berbagai kesulitan dalam menyelesaikan thesis ini.

Saya masih ingat, ketika titik balik thesis saya pada bulan Juli lalu. Saat semua target penelitian saya mundur, termasuk kelulusan saya. Karena kesalahan analisis pada data yang saya lakukan, sehingga ujian pun tidak mungkin segera dilakukan dan saya harus mengulang analisi data lagi dari sekitar 200 halaman. Sebelumnya sudah sekitar 3 kali saya melakukan analisis data, tetapi ternyata belum menemukan hasil data yang memuaskan dan tepat. Maka, setelah mencoba diskusi dengan kawan sekelas saya yang lebih senior dan dosen pembimbing saya, saya memutuskan untuk menganalisis ulang.

Dengan segala kondisi yang terasa penuh tekanan, halaman per halaman kembali saya analisis. Dan syukurlah dengan segala dukungan keluarga dan kawan-kawan saya, lembaran-lembaran analisis tersebut berhasil saya selesaikan pertengahan September kemarin. Walau belum yakin dengan hasilnya 100%. Tapi setidaknya telah mencoba yang terbaik.

Akhir yang Belum Berujung

Hidup bagai melompat dari satu bukit ke bukit yang lain. Awalnya tampak sulit dan tak tahu berakhir dimana dan kapan. Tapi di sanalah letak kekuatan kita. Tidak mundur, tetap melewatinya sesulit apa pun. Karena itulah mutiara-mutiara kehidupan berharga yang perlu ditemukan. Selalu ada pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan.

“Jump over fences, play with shadow, chase the rainbow, collect the stars….Live is adventure!!”- Nutrilon

Ilustrasi: http://www.google.co.id/imgres?q=wisuda&um

4 Responses to Life is adventure!

  1. murni

    betapa beratnya beban…sampai gunungpun tak sanggup untuk memikulnya…betapa indahnya perjuangan,,,,sehingga tak akan kuabaikan sedikitpun..karena aku yakin indahna perjuangan itu pasti akan kurasakan….luv u miss yulai…^^

  2. novie

    Semangat yach Ning Yuli.. Semoga dimudahkan dan dilancarkan penyelesaian tesisnya.. That is True.. Life is Adventure..
    menjadi seorang yang luar biasa memang butuh perjuangan yang luar biasa.. betul kan Ning?? :D .. hihihihihi

    *note : Ning = Mbak ( Sebutan Mbak dalam tradisi Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s