“Kalau mbak PKS ya? Atau Tarbiyah? Atau IM (Ikhwanul Muslimin)?”. Demikianlah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seorang kawan saya. Hemmm susah menjawabnya, karena bagi saya itu pertanyaan yang tidak mengenakan. Mengusik.
Apa pentingnya mengetahui latar belakang seseorang dari NU atau Muhammadiyah atau PKS? Islam sudah terlalu terkotak-kotakkan bahkan tercabik-cabik hanya gara-gara perbedaan mazhab, harokah dan partai. Bacalah Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo tentang kisah perjalanannya ke Afganistan dan ke beberapa Negara Timur Tengah.
Kisah perjalanan Agus menggambarkan dengan jelas bagaimana nasib Negara-negara di Timur Tengah harus mengalami perang saudara bertahun-tahun yang pada akhirnya mengancurkan tatanan kehidupan sosial, politik dan ekonomi Negara itu. Yang pada akhirnya Barat dan sekutunya dengan sangat mudah mengobok-ngobok Negara-negara di Timur Tengah dengan memanfaatkan perbedaan mazhab dan suku. Haruskah Indonesia bernasib sama?
Tentunya tidak. Jadi, buat saya pertanyaan di atas terasa seperti membuat tembok yang tebal dan pengkotak-kotakkan keberIslaman saya. Memilih jamaah, harokah dan apa pun namanya adalah hak masing-masing indvidu. Sangat tergantung pada tingkat kepamahaman, latar belakang keluarga, perjalanan hidup dan kenyamanan seseorang. Tidak bisa disamakan satu orang dengan orang yang lain. Oleh karena itulah, perbedaan pasti ada. Jadi, daripada mendiskusikan dan meributkan perbedaan tersebut. Saya akan lebih memilih mendiskusikan untuk bekerja sama pada hal-hal yang memang kita sepakati.
Jadi, kalau kelak ada yang bertanya lagi pada saya “Mbak PKS ya? Tarbiyah ya? IM ya?” saya akan jawab “Yang pasti saya Muslim ^^”……